Senin, 03 Desember 2012

MEMBERIKAN DUKUNGAN PERSALINAN




Dukungan persalinan
Dukungan persalinan adalah asuhan yang sifatnya mendukung yaitu asuhan yang bersifat aktif dan ikut serta dalam kegiatan selama persalinan merupakan suatu standar  pelayanan kebidanan, dimana ibu dibebaskan untuk memilih pendamping persalinan sesuai keinginannya, misalnya suami, keluarga atau teman yang mengerti tentang dirinya.
Dukungan persalinan
  • Sederhana
  • Efektif
  • Murah
  • Resiko rendah
  • Kemajuan persalinan bertambah baik
  • Hasil persalinan bertambah baik
Metode-metode dukungan persalinan
Asuhan dan dukungan bagi ibu
  • Menghadirkan seseorang yang dapat memberikan dukungan selama persalinan (orang terdekat : suami, orang tua, sahabat)
  • Pengaturan posisi : duduk atau setengah duduk, merangkak, berjongkok, berdiri, berbaring miring kekiri
  • Relaksasi dan pernafasan
  • Istirahat dan privasi
  • Penjelasan mengenai proses/kemajuan/prosedur yang akan dilakukan
  • Asuhan diri
  • Sentuhan
2.1 PENGURANGAN RASA SAKIT PADA PERSALINAN
Rasa nyeri merupakan hal yang biasa dialami wanita dalam menghadapi persalinan, dan rasa sakit yang dialami dapat berbeda di waktu yang berbeda. Biasanya rasa nyeri itu muncul selama 30-40 detik di setiap puncak kontraksi. Rasa nyeri itu datang dan hilang secara terus menerus. Dan ini merupakan hal biasa dan dapat diatasi.
Rasa nyeri yang dirasakan saat pembukaan semakin lama semakin terasa dan semakin sering. Rasa nyeri itu menyebabkan pasien menjadi takut, gelisah dan tegang. Akibatnya, mulut rahim menjadi kaku dan dasar panggul menjadi tegang, yang mengakibatkan perlambatan persalinan, kadang macet total (distosia servikalis).
Rasa nyeri selalu berubah-ubah. Kadang terasa sangat kuat , hilang, kadang terasa menusuk, atau sangat nyeri, biasanya terasa dibagian bawah perut, dibagian bawah punggung atau paha, atau ketiga tempat tersebut. Biasanya akan terasa di puncak kontraksi. 
A.    METODE PENGENDALIAN NYERI (BUKAN FARMAKOLOGIS)

1.      Metode Non-Medis

a.      Relaksasi
Relaksasi adalah metode pengendalian nyeri yang memberikan wanita masukan terbesar.
Teori yang menyokong penggunaan relaksasi selama persalinan terletak pada fisiologis sistem saraf otonom
SSO adalah bagian dari sistem saraf periver yang mempertahankan homeostasis dalam lingkungan intenal individu,sehinnga fungsi ini jarang mencapai tingkat kesadaran dan bila pun ada hanya sedikit kontrol volunter

b.      Hipnoterapi
Hipnoterapi merupakan penggunaan hipnosis untuk membuat suatu kepatuhan dan kondisi seperti tidur dalam terapi kondisi-kondisi dengan komponen psikologis yang besar(Booth,1993)

c.       Imajinasi
Imajinasi terbimbing melibatkan wanita yang menggunakan imajinasi untuk mengontrol nyerinya. Hal ini dapat dicapai dengan menciptakan bayangan yang mengurangi keparahan nyeri. Tetapi imajinasi harus dihindari pada orang yang berisiko menderita psikosis dan sebaiknya tidak lebih dari dua sesi imajinasi selama 20menit/hari

d.      Umpan balik biologis
Merupakan sebuah proses tempat seseorang belajar untuk memengaruhi respon fisiologis yang reliabel yang biasanya tidak berada dalam kontrol volunter
Keberhasilan umpan balik biologis bergantung pada kemampuan individu untuk belajar mengendalikan fungsi otonom.

e.       Kompres panas
Cara menggunakan kompres panas
Dengan menggunakan handuk panas atau silica gel yang telah dipanaskan atau kantung nasi panas atau botol yang  telah diisi air panas. Dapat juga langsung dengan menggunakan shower air panas lengsung pada bahu, perut atau punggungnya jika ibu merasa nyaman.
Proses penghilangan rasa sakit dengan kompres panas
Kompres panas dapat meningkatkan suhu lokal pada kulit sehingga meningkatkan sirkulasi pada jaringan untuk proses metabolisme tubuh. Hal tersebut dapat mengurangi spasme otot dan mengurangi nyeri.
Waktu pemberian kompres panas
  • Saat ibu mengeluh sakit atau nyeri pada daerah tertentu
  • Saat ibu mengeluh adanya tanda-tanda ketegangan otot
  • Saat ibu mengeluh ada perasaan tidak nyaman
  • Pada kala II, kompres pada perineum akan merealisasikannya juga akan mengurangi sakit
Kapan tidak boleh digunakan kompres panas
  • Saat ibu menyatakan tidak nyaman dengan panas atau dalam keadaan demam
  • Jika petugas takut dengan kemungkinan terjadinya demam akibat kompres panas
f.       Kompres dingin
Cara menggunakan kompres dingin
  • Menggunakan kompres dingin pada punggung atau perineum
  • Menggunakan butiran es, handuk basah dan dingin, sarung tangan karet yang diisi dengan butiran es, botol plastik dengan air es
  • Dapat digunakan pada wajah ibu yang bengkak, tangan atau kaki
  • Dapat diletakan pada anus untuk mengurangi nyeri haemoroid kala II
Proses penghilangan rasa sakit kompres dingin
  • Kompres dingin sangat berguna untuk mengurangi ketegangan otot dan nyeri dengan menekan spasme otot (lebih lama daripada kompres panas)
  • Memperlambat proses pengahntaran rasa sakit dari neuron ke organ
  • Kompres dingin juga mengurangi bengkak dan mendinginkan kulit
Waktu pemberian kompres dingin
  • Nyeri punggung
  • Merasa kepanasan pada masa inpartu
  • Haemorrhoid yang menimbulkan sakit
  • Setelah persalinan, dapat digunakan pada perineum untuk menghilangkan bengkak dan nyeri
Kapan tidak boleh digunakan kompres dingin
  • Saat ibu merasa menggigil
  • Jika ibu mengatakan tidak ada perubahan atau iritasi
g.      Hidrotherapy
  • Menggunakan air untuk mengurangi rasa sakit
  • Suhu air tidak lebih dari 37-37,5ᴼC
  • Mengurangi ketegangan otot, nyeri, cemas pada beberapa wanita
  • Menggunakan air dalam persalinan perkembangan saat ini dan telah dipublikasikan secara luas.
 Selain itu cara lain yang dapat dilakukan, yaitu :
Ø  Merancang ruang sedemikian rupa sehingga dapat membantu meningkatkan hormon melalui ruangan yang gelap, menjaga privacy.
Ø  Coba merubah posisi, atau merubah gerak dan focus pada pernafasan.
Ø  Konsentrasi dan focus pada pernafasan, berpikir positif dan suara lepas.
Ø  Lakukan pijatan dengan menggunakan minyak aromaterapi untuk mengurangi rasa sakit, atau sebarkan aroma terapi diseluruh ruangan dengan pembakaran.
Ø  Gunakan air hangat, shower atau berendam.
Ø  Gunakan penyembuhan homeopathic seperti Arnica, mulai saat awal persalinan.
Ø  Dorongan keyakinan dari pasangan selama persalinan.

2.      Metode Medis

Ø  ILA (Intracthecal Lumbal Analgesia)

§  Sebelum pembukaan 7-8 cm ibu dapat memutuskan menggunakan teknik ILA jika pembukaan jalan lahir berjalan lambat.
§  Tehnik pemberian paling singkat, mudah dan sederhana.
§  Pemberian pada ruang subcrachnoid. “One Shoot Prosedure” dengan durasi “bebas nyeri” 6 sampai 9 jam.
§  Memerlukan tindakan anastetik lain bila diperlukan tindakan operatif.
§  Tidak berpengaruh terhadap nilai apgar bayi.
Hilangnya rasa nyeri dapat mencegah peningkatan tekanan darah lebih lanjut, aliran darah plasenta dan ginjal akan lebih baik, output urin dapat meningkat.
Ø  TENS

Gelombang elektronik berfungsi seperti pemijatan. Mesin ini merangsang tubuh untuk memproduksi senyawa penghilang rasa sakit alamiah, yaitu endorphin. Endorphin dapat menghambat hantaran sinyal sakit ke otak.




Ø  AKUPUNKTUR

Akupunktur adalah pengobatan yang memanfaatkan rangsangan pada titik akupunktur yang mempengaruhi aliran bio-energi tubuh. Tehnik akupunktur ini memiliki efek fisik pada system endorfin. Endorphin sering disebut opium alami tubuh. Tehnik akupunktur ini mengatur fungsi otot dan mengatasi rasa sakit. Rangsangan akupunktur dapat menyebabkan naiknya jumlah endorfin. Dengan naiknya kadar endorfin, tubuh mencoba melakukan penyembuhan diri.
2.2 Persiapan Persalinan
A.  Persiapan persalinan, antara lain :
1)      Menyiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi.
Persalinan dan kelahiran bayi mungkin terjadi di rumah (rumah ibu, rumah kerabat), ditempat bidan, di puskesmas, polindes atau rumah sakit. Pastikan ketersediaan bahan-bahan dan sarana yang memadai dan upaya pencegahan infeksi dilaksanakan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Di manapun persalinan dan kelahiran bayi terjadi, diperlukan hal – hal pokok seperti berikut ini :
Ø  Ruangan yang hangat dan bersih, memiliki sirkulasi udara yang baik dan terlindung dari tiupan angin.
Ø  Sumber air bersih yang mengalir untuk cuci tangan dan mandi ibu sebelum dan sesudah melahirkan.
Ø  Air desinfeksi tingkat tinggi (air yang dididihkan dan didinginkan) untuk membersihkan vulva dan perineum sebelum periksa dalam selama persalinan dan membersihkan perineum ibu setelah bayi lahir.
Ø  Air bersih dalam jumlah yang cukup, klorin, deterjen, kain pembersih, kain pel dan sarung tangan karet untuk membersihkan ruangan, lantai, perabotan, dekontaminasi dan proses peralatan.
Ø  Kamar mandi yang bersih untuk kebersihan pribadi ibu dan penolong persalinan. Pastikan bahwa kamar kecil dan kamar mandi telah didekontaminasi dengan larutan klorin 0,5 %, dibersihkan dengan deterjen dan air sebelum persalinan dimulai (untuk melindungi ibu dari risiko infeksi), dan setelah bayi lahir (melindungi keluarga terhadap risiko infeksi dari darah dan sekret tubuh ibu).
Ø  Tempat yang lapang untuk ibu berjalan – jalan selama persalinan, melahirkan bayi dan memberikan asuhan bagi ibu dan bayinya setelah persalinan. Pastikan bahwa ibu mendapatkan privasi.
Ø  Penerangan yang cukup, baik siang maupun malam.
Ø  Tempat tidur yang bersih untuk ibu. Tutupi kasur dengan plastik atau lembaran yang mudah dibersihkan jika terkontaminasi selama persalinan atau kelahiran bayi.
Ø  Tempat yang bersih untuk memberikan asuhan bayi baru lahir.
Ø  Meja yang bersih atau tempat tertentu untuk menaruh peralatan persalinan.
Ø  Meja untuk tindakan resusitasi bayi baru lahir.

2)      Menyiapkan semua perlengkapan, bahan – bahan dan obat – obat esensial.
Pastikan kelengkapan jenis dan jumlah bahan – bahan yang diperlukan dan dalam keadaan siap pakai untuk setiap persalinan dan kelahiran. Jika tempat persalinan dan kelahiran bayi, jauh dari fasilitas kesehatan, bawalah semua keperluan yang dibutuhkan ke lokasi persalinan. Kegagalan untuk menyediakan semua perlengkapan, bahan – bahan dan obat – obat esensial pada saat asuhan diberikan, akan meningkatkan risiko terjadiny penyulit pada ibu dan bayi baru lahir yang dpat membahayakan keselamatan jiwa mereka.

Pada setiap persalinan dan kelahiran bayi :
1.      Periksa semua peralatan sebelum dan setelah memberikan asuhan. Ganti peralatan yang hilang atau rusak dengan segera.
2.      Periksa semua obat-obatan dan bahan – bahan sebelum dan setelah menolong ibu bersalin dan melahirkan. Segera ganti obat apapun yang telah digunakan atau hilang.
3.      Pastikan bahwa perlengkapan dan bahan – bahan sudah bersih dan siap pakai. “partus set”, “set jahit”, dan peralatan resusitasi bayi baru lahir sudah dalam kondisi didesinfeksi tingkat tinggi atau steril.

3)      Menyiapkan rujukan.
Jika terjadi penyulit, keterlambatan untuk merujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai dapat membahayakan jiwa ibu dan / atau bayinya. Jika perlu dirujuk, siapkan dan sertakan dokumentasi tertulis semua asuhan dan perawatan dan hasil penilaian (termasuk partograf) yang telah dilakukan untuk dibawa ke fasilitas rujukan.
Jika ibu datang untuk asuhan persalinan dan kelahiran bayi dan ia tidak siap dengan rencana rujukan, lakukan konseling terhadap ibu dan keluarganya tentang keperluan rencana rujukan. Bantu mereka membuat rencana rujukan pada saat awal persalinan.

4)      Memberikan asuhan sayang ibu selama persalinan.
Persalinan adalah saat yang menegangkan dan menggugah emosi ibu dan keluarganya, malahan dapat pula menjadi saat yang menyakitkan dan menakutkan bagi ibu. Untuk meringankan kondisi tersebut, pastikan bahwa setiap ibu akan mendapatkan asuhan sayang ibu selama persalinan dan kelahiran.
·         Prinsip –prinsip umum asuhan sayang ibu, antara lain :
1.      Sapa ibu dengan ramah dan sopan, bersikap dan bertindak dengan tenang dan berikan dukungan penuh selama persalinan dan kelahiran bayi.
2.      Jawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh ibu atau anggota keluarganya.
3.      Anjurkan suami dan anggota keluarga ibu untuk hadir dan memberikan dukungannya.
4.      Waspadai tanda – tanda penyulit selama persalinan dan lakukan tindakan yang sesuai jika diperlukan.
5.      Siap dengan rencana rujukan.
·         Asuhan sayang ibu termasuk
·         Memberikan dukungan emosional
·         Mengatur posisi ibu
·         Memberikan cairan dan nutrisi
·         Keleluasaan menggunakan kamar mandi secara teratur

5)      Melakukan upaya Pencegahan Infeksi (PI) yang direkomendasikan.
Menjaga lingkungan yang bersih merupakan hal penting dalam mewujudkan kelahiran yang bersih dan aman bagi ibu dan bayinya. Hal ini tergolong dalam unsur esensial asuhan sayang ibu. Kepatuhan dalam menjalankan praktek – praktek pencegahan infeksi yang baik juga akan melindungi penolong persalinan dan keluarga ibu dari infeksi. Ikuti praktek – praktek pencegahan infeksi yang sudah ditetapkan, ketika mempersiapkan persalinan dan kelahiran. Anjurkan ibu untuk mandi pada awal persalinan dan pastikan bahwa ibu memakai pakaian yang bersih. Mencuci tangan sesering mungkin, menggunakan peralatan steril/DTT dan sarung tangan saat diperlukan. Anjurkan anggota keluarga untuk mencuci tangan mereka sebelum dan setelah melakukan kontak dengan ibu dan bayi baru lahir.
Alasan : Pencegahan infeksi sangat penting dalam menurunkan kesalitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. Upaya dan ketrampilan dalam melaksanakan prosedur pencegahan infeksi yang baik, akan melindungi penolong persalinan terhadap risiko infeksi.

2.3 Pemenuhan Kebutuhan Fisik & Psikologis Ibu & Keluarga
A.   Pemenuhan Kebutuhan Fisik
Ø  Kebersihan dan kenyamanan
Wanita yang sedang bersalin akan merasa sangat panas dan berkeringat banyak, karena itu akan sangat mendambakan kesempatan untuk mandi atau bersiram jika ia bisa.
Jika si ibu bisa berdiri ia akan senang bila bisa digosok tubuhnya dengan spons, khususnya bagian muka dan lehernya dengan air dingin.
Sebuah gaun yang bersih dan adem akan sangat disukai dan sebuah kipas angin akan sangat menyejukkan.
Mulutnya bisa disegarkan dengan jalan menggosok gigi.

Ø  Posisi
Persalinan dan kelahiran merupakan suatu peristiwa yang normal, tanpa disadari dan mau tak mau harus berlangsung. Untuk membantu ibu agar tetap tenang dan rileks sedapat mungkin bidan tidak boleh memaksakan pemilihan posisi yang diinginkan oleh ibu dalam persalinannya. Sebaiknya, peranan bidan adalah untuk mendukung ibu dalam pemilihan posisi apapun yang dipilihnya, menyarankan alternatif – alternatif hanya apabila tindakan ibu tidak efektif atau membahayakan bagi dirinya sendiri atau bagi bayinya. Bila ada anggota keluarga yang hadir untuk melayani sebagai pendukung ibu, maka bidan bisa menawarkan dukungan pada orang yang mendukung ibu tersebut.

Posisi untuk persalinan
POSISI
ALASAN / RASIONALISASI
Duduk / setengah duduk
Lebih mudah bagi bidan untuk membimbing kelahiran kepala bayi dan mengamati/mensupport perineum
Posisi merangkak
Baik untuk persalinan dengan punggung yang sakit, membantu bayi melakukan rotasi, peregangan minimal pada perineum
Berjongkok / berdiri
Membantu penurunan kepala bayi, memperbesar ukuran panggul, memperbesar dorongan untuk meneran
Berbaring miring ke kiri
Memberi rasa santai bagi ibu yang letih, memberi oksigenisasi yang baik bagi bayi, membantu mencegah terjadinya laserasi

Ø  Kontak fisik
Si ibu mungkin tidak ingin bercakap – cakap tetapi ia mungkin akan merasa nyaman dengan kontak fisik. Partnernya hendaknya didorong untuk mau berpegangan tangan dengannya, menggosok punggungnya, menyeka wajahnya dengan spons atau mungkin hanya mendekapnya. Sebagian pasangan suami istri mungkin ingin mempraktekkan dimana partnernya mengelus – elus perut dan paha wanita atau tehnik – tehnik lain yang serupa. Mereka yang menginginkan kelahiran yang aktif bisa mencoba stimulasi puting dan klitoris untuk mendorong pelepasan oksitosin dari kelenjar pituitary dan dengan demikian merangsang kontraksi uterus secara alamiah. Hal ini juga akan merangsang produksi endogenous opiates, yang memberikan sedikit analgesia alamiah.

Ø  Pijatan
Wanita yang menderita sakit punggung atau nyeri selama persalinan mungkin akan merasakan pijatan sangat meringankan. Sebagian wanita mungkin akan merasakan pijatan pada abdominal menyenangkan; elusan ringan diatas seluruh perut emang bisa terasa enak, dengan menggunakan kedua tangan dan melakukan ujung jari menyentuh daerah symphysis pubis, melintas diatas fundus uterus dan kemudian turun ke kedua sisi perut.

B.   Pemenuhan Kebutuhan Psikologis
Ø  Persiapan untuk persalinan
Pada suatu tahap dalam masa persalinannya semua wanita akan menyadari keharusan untuk melahirkan anaknya.
Ø  Memberikan informasi
setiap wanita yang hamil haruslah memperoleh kesempatan untuk membentuk hubungan dengan seorang bidan tertentu agar supaya advis bisa diberikan secara konsisten dan wanita tersebut akan merasa rileks dan bisa bebas meminta informasi. Dengan cara demikian setiap wanita akan bisa mendapatkan informasi sebanyak yang diinginkannya.
Ø  Mengurangi kecemasan
Meskipun setiap wanita mungkin akan merasa sedikit takut tentang beberapa aspek dari kehamilan dan persalinan, banyak diantaranya merasa bahwa hal tersebut tidaklah berdasar.
Ø  Keikutsertaan dalam perencanaan
Pasangan – pasangan yang bisa berpartisipasi dalam perencanaan asuhan mereka dengan cara ini akan merasa bahwa hal tersebut akan dianggap penting bagi para pemberi asuhan dan akan merasa lebih tenang dalam menghadapi seluruh pengalaman memasuki rumah sakit. Bidan harus ingat bahwa bagi pasangan – pasangan muda, sebuah rumah sakit itu bagaikan benda asing, lingkungan yang belum dikenal yang dihubungkan dengan sakit dan mati dan bahwa mungkin saja mereka belum pernah datang ke tempat seperti itu.
Ø  Berkenalan dengan para staf
Berkenalan dengan staf ruang bangsal persalinan serta melihat – lihat lingkungannya akan sangat berguna bagi sebagian besar wanita. Jika penggunaan perlengkapan dijelaskan tentu akan terasa tidak seperti rumah sakit dan akan kurang menakutkan. Pendekatan tim asuhan akan dirancang untuk bisa menaarkan kesinambungan asuhan dari si pemberi asuhan kepada setiap wanita agar supaya dia mendapatkan rasa aman bahwa ia akan bertemu dengan orang – orang yang sudah dikenalnya selama kontak dengan penyedia jasa persalinannya.

2.4 Tanda Bahaya Kala I dan Manajemennya
A.   Kala I

Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm) kala ini terjadi dari 2 fase yaitu :

Ø  Fase laten
Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap.Pembukaan serviks kurang dari 4 cm.Berlangsung selama + 8 jam dan sangat lambat.
Ø  Fase aktif
Dibagi dalam 3 fase :
                                i.            Fase akselerasi : dalam waktu 2 jam pembukaan yang kurang dari 4 cm tadi berubah menjadi 4 cm.
                              ii.            Fase dilatasi maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm.
                            iii.            Fase deselarasi : pembukaan lambat karena dalam 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap.
Pada fase aktif frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi adekuat atau memadai jika terjadi 3x atau lebih per 10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih serta terjadi penurunan terbawah janin).
B. Tanda bahaya kala I dan manajemennya
Indikasi-indikasi untuk tindakan dan / atau rujukan segera selama kala I persalinan.
Temuan-temuan anamnesis dan/atau pemeriksaan
Rencana untuk asuhan atau perawatan
Riwayat bedah sesar
1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang mempunyai kemampuan untuk melakukan bedah sesar.
2. Dampingi ibu ke tempat rujukan. Berilah dukungan dan semangat.
Perdarahan pervaginam selain dari lendir bercampur darah (show)
Jangan melakukan pemeriksaan dalam
1. Baringkan ibu ke sisi kiri
2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan ringer loktat atau cairan garam fisiologis (NS)
3. Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan untuk melakukan bedah sesar.
4. Dampingi ibu ke tempat rujukan.
Kurang dari 37 minggu (persalinan kurang bulan)
1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetric dan BBL.
2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.
Ketuban pecah disertai dengan keluarnya mekonium kental
1. Baringkan ibu ke sisi kiri
2. Dengarkan DJJ
3. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan untuk melakukan bedah sesar.
4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan bawa partus set, kateter penghisap lendir delle dan handuk/kain untuk mengeringkan dan menyelimuti bayi kalau ibu melahirkan di jalan.
Ketuban pecah bercampur dengan sedikit mekonium disertai tanda-tanda gawat janin
1. Dengarkan DJJ, jika ada tanda-tanda gawat janin laksanakan asuhan yang sesuai (lihat di bawah)
Ketuban telah pecah (lebih dari 24 jam) atau ketuban pecah pada kehamilan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan melakukan asuhan kegawat daruratan obstetric.
2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.
Tanda-tanda atau gejala-gejala infeksi :
- Temperatur tubuh
- Menggigil
- Nyeri abdomen
- Cairan ketuban yang berbau
1. Baringkan ibu miring kekiri
2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan ringer loktat atau cairan garam fisiologis (NS) dengan tetesan 125 ml/jam.
3. Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan untuk melakukan bedah sesar.
4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.
Tekanan darah lebih dari 160/ 110 dan/atau terdapat protein dalam urine (preeklamsia berat)
1. Baringkan ibu miring kekiri
2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan ringer loktat atau cairan garam fisiologis (NS)
3. Jika mungkin berikan dosis awal 4 g MgSO4 20% IV selama 20 menit.
4. Suntikan 10 g MgSO4 50% 15 g IM pada bokong kiri dan kanan.
5. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kapabilitas asuhan kegawat daruratan obstetric dan BBL.
6. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.
Tinggi fundus 40 cm atau lebih (makrosomia, polihidramniofis, kehamilan ganda
1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan untuk melakukan bedah sesar.
2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat dan dukungan.
Alasan :
Jika diagnosisnya adalah polihidramnion, mungkin ada masalah-masalah dengan janinnya. Dengan adanya makrosomia risiko distosia bahu dan perdarahan pasca persalinan atau lebih besar.
DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 kali/menit pada 2 x penilaian dengan jarak 5 menit (gawat janin)
1. Baringkan ibu miring ke kiri, dan anjurkan untuk bernapas secara teratur.
2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan renger laktat atau cairan garam fisiologis (NS) dengan tetesan 125 ml/jam.
3. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawat daruratan obstetri dan BBL.
4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.
Primipara dalam persalinan fase aktif dengan palpasi kepala janin masih 5/5
1. Baringkan ibu miring ke kiri
2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pembedahan bedah sesar
3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.
Presentasi bukan belakang kepala (sungsang, letak lintang, dll)
1. Baringkan ibu miring ke kiri.
2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawat daruratan obstetri dan BBL.
3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.
Presentasi ganda (majemuk) (adanya bagian janin, seperti misalnya lengan atau tangan, bersamaan dengan presentasi belakang kepala)
1. Baringkan ibu dengan posisi lutut menempel ke dada atau miring ke kiri.
2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawat daruratan obstetri dan BBL.
3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.
Tali pusat menumbung (jika tali pusat masih berdenyut)
1. Gunakan sarung tangan disinfeksi tingkat, letakan satu tangan divagina dan jauhkan kepala janin dari tali pusat janin. Gunakan tangan yang lain pada abdomen untuk membantu menggeser bayi dan menolong bagian terbawah bayi tidak menekan tali pusatnya. (keluarga mungkin dapat membantu).
2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawat daruratan obstetric dan BBL.
3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan
ATAU
1. Minta ibu untuk melakukan posisi bersujud dimana posisi bokong tinggi melebih kepala ibu, hingga tiba ke tempat rujukan.
2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetric dan BBL.
3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan.
Tanda-tanda gejala syok :
  • Nadi cepat, lemah (lebih dari 110 kali/menit)
  • Tekanan darahnya rendah (sistolik kurang dari 90 mm Hg
  • Pucat
  • Berkeringat atau kulit lembab, dingin.
  • Napas cepat (lebih dari 30 x/menit)
  • Cemas, bingung atau tidak sadar
  • Produksi urin sedikit (kurang dari 30 ml/jam)
1. Baringkan ibu miring ke kiri
2. Jika mungkin naikkan kedua kaki ibu untuk meningkatkan aliran darah ke jantung.
3. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan RL atau cairan garam fisiologis (NS), infuskan 1 liter dalam waktu 15 – 20 menit, jika mungkin infuskan 2 liter dalam waktu 1 jam pertama, kemudian turunkan tetesan menjadi 125 m/jam.
4. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawat daruratan obstetri dan BBL.
5. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.
Tanda-tanda gejala persalinan dengan fase laten yang memanjang.
  • Pembukaan serviks kurang dari 4 cm setelah 8 jam.
  • Kontraksi teratur lebih dari 2 dalam 10 menit)
1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kapasitas kegawatdaruratan obstetri dan BBL.
2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.
Tanda dan gejala belum inpartu
  • Kurang dari 2 kontraksi dalam 10 menit, berlangsung kurang dari 20 detik
  • Tidak ada perubahan serviks dalam waktu 1 – 2 jam.
1. Anjurkan ibu untuk minum dan makan.
2. Anjurkan ibu untuk bergerak bebas dan leluasa.
3. Jika kontraksi berhenti dan/atau tidak ada perubahan serviks, evaluasi djj, jika tidak ada tanda-tanda kegawatan pada ibu dan janin. Persilahkan ibu pulang dengan nasehat untuk :
  • Menjaga cukup makan dan minum
  • Datang untuk mendapatkan asuhan jika terjadi peningkatan frekuensi dan lama kontraksi.
Tanda dan gejala partus lama
  • Pembukaan serviks mengarah kesebelah kanan garis waspada (partograp)
  • Pembukaan serviks kurang dari 1 cm perjam
  • Kurang dari 2 kontraksi dalam waktu 10 menit, masing-masing berlangsung kurang dari 40 detik.
1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetric dan BBL.
2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan.
2.5 Pendokumentasian Kala I
A.   Hal-hal yang perlu di dokumentasikan
Pendokumentasian dapat dilakukan dengan menggunakan hasil temuan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Anamnesis

Ø  Nama, umur dan alamat
Ø  Gravida dan para
Ø  HPHT
Ø  Tapsiran persalinan
Ø  Alergi obat-obatan
Ø  Riwayat kehamilan, sekarang dan sebelumnya
Ø  Riwayat medis lainnya.
Ø  Masalah medis saat ini, dll.

Pemeriksaan fisik

Ø  Pemeriksaan abdomen
-          Menentukan TFU
-          Memantau kontraksi uterus
-          Memantau DJJ
-          Memantau presentasi
-          Memantau penurunan bagian terbawah janin

Pemeriksaan dalam

Ø  Menilai cairan vagina
Ø  Memeriksa genetalia externa
Ø  Menilai penurunan janin
Ø  Menilai penyusupan tulang kepala
Ø  Menilai kepala janin apakah sesuai dengan diameter jalan lahir
Ø  Jangan melakukan pemeriksaan dalam jika ada perdarahan pervaginam.

B.  Format pendokumentasian kala I
Digunakan SOAP untuk mendokumentasikannya.

Ø  S : Subjektif
Menggambarkan hasil pendokumentasian anamnesis.
Ø  O : Objektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil dari pemeriksaan laboratorium dan tes diagnostic lain yang dirumuskan dalam data focus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I varney.
Ø  A : Assesment
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data objektif dalam identifikasi yang meliputi :
-          Diagnosa atau masalah
-          Antisipasi diagnosa atau masalah potensial
-          Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi, kolaborasi dan atau rujukan sebagai langkah II, III dan IV varney.

Ø  Planning
Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan pelaksanaan tindakan dan evaluasi berdasarkan assessment sebagai langkah V, VI dan VII varney.














BAB III

PENUTUP


3.1 KESIMPULAN













3.2 SARAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar